News

Penguatan Peran Puskesmas dalam Menghadapi Pandemi COVID-19

Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama juga memiliki peran yang cukup penting dalam penanganan COVID-19, selain rumah sakit yang menjadi ‘ujung tombak’ pelayanan kesehatan selama masa pandemi ini. Presiden Republik Indonesia Joko Widodo sendiri telah memberikan instruksi penguatan Puskesmas di seluruh wilayah Indonesia untuk mendukung upaya penanganan pandemi COVID-19. Puskesmas dan jaringannya menjadi simpul dalam pengujian sampel, pelacakan, dan penelusuran kasus COVID-19 di wilayah masing-masing.

Penguatan peran Puskesmas dalam penanganan COVID-19 ini tertuang dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Nomor HK.02.02/II/0867/2020 tanggal 18 Maret 2020 tentang Penguatan Peran Puskesmas dalam Upaya Promotif dan Preventif COVID-19. Penguatan terhadap peran Puskesmas dilakukan secara berjenjang untuk melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) melalui koordinasi dengan Dinas Kesehatan masing-masing daerah merujuk kepada Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi COVID-19 dari Kementerian Kesehatan.

Peran ini menjadi wewenang besar bagi Puskemas dalam penanganan Covid-19, terutama pada pasien yang memiliki gejala ringan. Puskesmas menjalankannya dengan melakukan pemeriksaan (screening) COVID-19 melalui penelusuran (tracing) terhadap masyarakat yang diduga kontak erat dengan pasien kasus positif. Dalam pelaksanaan tugas ini, Puskesmas menerapkan dua cara untuk melakukan tracing, yaitu melalui uji antibodi (rapid test), dan melalui pengambilan sampel cairan di tenggorokan (throat swab) atau tes PCR (polymerase chain reaction).

Sebelum rapid test atau tes PCR dilaksanakan, petugas puskesmas akan melakukan wawancara dan pemeriksaan epidemiologi terhadap pasien. Jika hasil pemeriksaan awal menunjukkan ada indikasi kuat COVID-19, petugas puskesmas akan mengambil darah pasien untuk uji tingkat antibodi melalui rapid test pada pembuluh kapiler atau ujung jari. Sedangkan tes PCR dilakukan melalui pengambilan sampel cairan (swab) pada tenggorokan maupun pangkal hidung untuk pemeriksaan laboratorium.

Hal ini sesuai pula dengan penguatan peran Puskesmas untuk menganjurkan masyarakat agar segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan jika mengalami demam, batuk, sesak dan gangguan pernafasan, serta memiliki riwayat perjalanan dari negara/area transmisi lokal atau riwayat kontak dengan pasien positif. Setiap pasien yang tidak menunjukkan gejala sakit berat akan diminta untuk mengisolasi diri di rumah dengan tetap berada dalam pemantauan puskesmas yang akan memberikan edukasi dan informasi. Puskesmas memang berperan pula melakukan edukasi kepada masyarakat agar melakukan isolasi mandiri sesuai Protokol Isolasi Diri Dalam Penanganan COVID-19.

Namun, jika hasil pemeriksaan menunjukkan pasien membutuhkan perawatan, maka akan dirujuk ke rumah sakit rujukan COVID-19 untuk penanganan lebih lanjut. Oleh karena itu, Puskesmas juga diminta melakukan koordinasi dan kolaborasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan dan lintas sektor terkait di wilayah kerjanya, termasuk dalam upaya peningkatan promotif dan preventif penyebaran COVID-19. Dalam peningkatan kegiatan promotif dan preventif kepada masyarakat, Puskemas melakukannya melalui Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) terkait COVID-19 pada media yang telah tersedia atau telah dikembangkan melalui inovasi daerah.

Puskesmas juga diberikan penguatan peran untuk mengingatkan dan mendorong pengelola tempat-tempat umum (TTU) di wilayah kerjanya untuk menyediakan sarana dan prasarana cuci tangan bagi pengunjung TTU tersebut, serta menempelkan media KIE terkait COVID-19. Oleh karena itu, dalam upaya penguatan peran Puskesmas ini, pemerintah kabupaten/kota diharapkan ikut melibatkan Puskesmas secara langsung dalam penanganan COVID-19, agar setiap Puskemas yang berada di wilayah kecamatan dapat menjalankan perannya secara maksimal.

Dalam pelaksanaan tugas penanganan COVID-19, seluruh petugas medis yang bertugas di Puskesmas juga telah mendapatkan pelatihan secara online dalam penanganan COVID-19, mulai dari pencegahan, screening, dan penanganan pasien. Selain itu, petugas Puskesmas juga tetap memperhatikan protokol kesehatan dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) dan masker selama bertugas. Hal ini dilakukan dalam upaya pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) yang secara konsisten merujuk kepada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 27 Tahun 2017 tentang Pedoman PPI di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.

Peran Puskesmas dalam melakukan prevensi, deteksi dan respon ini dilaksanakan secara terintegrasi dalam memberikan pelayanan kesehatan lainnya pada masa pandemi COVID-19, sesuai dengan Petunjuk Teknis Pelayanan Puskesmas pada Masa Pandemi COVID-19 yang dikeluarkan oleh Direktorat Pelayanan Kesehatan Primer Kementerian Kesehatan RI. Hal ini mengingat ada pelayanan esensial (primer) yang harus tetap diberikan kepada masyarakat seperti pemeriksaan ibu hamil, pemberian imunisasi pada balita, dan lainnya.

[Penulis: Ade Marza]

Tags

Leave a comment